Habib Rizieq Shihab Pulang, Pengamat Politik UI: Ini Momentum HRS Islah Dengan Pemerintah

10 November 2020, 09:25 WIB
Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab tiba di Indonesia hari ini, Selasa, 10 November 2020. /ANTARA

PORTAL PROBOLINGGO - Kepulangan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab yang dinanti-nantikan pengikutnya akhirnya datang juga. Habib Rizieq dijadwalkan kembali ke Indonesia dari Arab Saudi pada Senin, 9 November 2020 waktu setempat.

Menurut Dr. Ade Reza Hariyadi selaku Pengamat Politik dan Pemerintahan Universitas Indonesia (UI),Kepulangan Habib Rizieq Shihab ke tanah air seyogyanya menjadi momentum membuka tabir persoalannya dengan pemerintah.

"Sehingga menjadi terang benderang persoalan yang terjadi selama ini," ujar Ade Reza Hariyadi sebagaimana dilansir PORTAL PROBOLINGGO dari RRI.co.id, pada Selasa 10 November 2020.

Baca Juga: Turun Lagi! Update Harga Logam Mulia Emas Antam Hari Ini Selasa 10 November 2020 di Pegadaian

Ade mengatakan, persoalan keduanya tidak akan pernah selesai jika yang terjadi hanyalah klaim masing-masing pihak.

"Tidak bisa berdiri sediri, harus saling berinteraksi. Kalau sudah tidak ada persoalan di sana, ya sebaiknya di terima, dan kalau memang di sini masih ada kaitannya dengan masalah hukum, Habib juga harus menghadapi, dan hak-hak konstitusional digunakan untuk mendapatkan pelayanan hukum yang terbaik," terangnya.

Sebaliknya, menurut Ade, pemerintah juga tidak boleh terkesan mencari kesalahan dari Habib Rizieq.

Baca Juga: Memperingati Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional, Presiden Jokowi Bagi-bagi Satu Juta Sertifikat

"Kedua belah pihak juga jangan ada upaya untuk mencari cari kesalahan, hanya karena Habib Rizieq yang suka berseberangan pendapat dengan pemerintah. Harus ada situasi yang sama-sama fair. Sehingga tidak ada kesan-kesan lain," ungkapnya.

"Yang terjadi selama ini adalah perperangan opini, yang sifatnya faktual justru tidak terungkap. Ini momentumnya, kalau tidak segera diselesaikan, akan tetap menggantung menjadi opini yang simpang siur yang berpotensi menghadirkan keresahan di tengah masyarakat," pungkasnya.

Seperti yang diketahui, ada beberapa kasus yang membelit Imam Besar FPI tersebut. Pertama, adalah kasus pencemaran nama baik Soekarno. Rizieq Shihab diduga melanggar Pasal 320 KUHP tentang pencemaran nama baik orang yang sudah meninggal.

Baca Juga: Para Jama'ah Padati Bandara Soekarno-Hatta Menyambut Kedatangan Habib Rizieq

Kedua, kasus penodaan pancasila. Seperti kasus dugaan pencemaran nama baik Soekarno, kasus dugaan penodaan Pancasila juga dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri. Rizieq Shihab diduga melanggar Pasal 154a KUHP dan/atau Pasal 320 KUHP dan/atau Pasal 57a juncto Pasal 68 Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Ketiga, Kasus Sampurasun. Aliansi Masyarakat Sunda Menggugat melaporkan Rizieq Shihab ke Polda Jawa Barat karena dianggap telah menghina dan melecehkan budaya Sunda, pada 24 November 2015.

Habib Rizieq diduga melanggar UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Pelaporan kasus tersebut didukung 15 organisasi lainnya. Mereka menuntut Rizieq meminta maaf kepada rakyat Jawa Barat. Pelaporan itu buntut dari ucapan Rizieq yang memplesetkan salam orang Sunda "Sampurasun" menjadi "Campur Racun". Kata plesetan itu diucapkan Rizieq saat berceramah di Purwakarta, pada 13 November 2015.

Baca Juga: Link Download Logo Resmi Hari Pahlawan Tahun 2020

Selain itu, Rizieq Shihab juga terjerat kasus dugaan penodaan agama, dugaan penyebaran konten pornografi, dan kasus dugaan penyebaran kebencian. ***

Editor: Antis Sholihatul Mardhiyah

Sumber: RRI

Tags

Terkini

Terpopuler